• FASTAQIM_فَاسْتَقِمْ
  • MAKA TETAPLAH ENGKAU PADA JALAN YANG BENAR

BACAAN IMAM KURANG FASIH, APA YANG HARUS DILAKUKAN TAKMIR?

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa rukun shalat ada 3 (tiga) macam. Yakni, Rukun Qolbi (Rukun yang sebangsa hati). Artinya, rukun ini harus dipenuhi oleh aktivitas hati, yaitu niat. Berikutnya adalah Rukun Fi'liy (Rukun yang sebangsa perbuatan). Artinya, rukun ini harus dipenuhi oleh aktivitas pergerakan/ perbuatan, semisal berdiri, rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud dll. kemudian ada Rukun Qouliy (rukun yang sebangsa ucapan). Artinya, rukun ini harus dipenuhi oleh ucapan dalam shalat, seperti membaca takbir saat takbiratul-ihram, membaca al-Fatihah, shalawat dll. 

Ketiga rukun ini, semuanya harus dipenuhi oleh orang yang mampu melakukannya di saat melaksanakan shalat. Ketika salah satu dari rukun-rukun tersebut tidak terpenuhi, maka shalat tidaklah sempurna sehingga dianggap tidak sah karena kondisi shalat tersebut tidak terkait dengan keberlangsungan atau keteranggapan. Dalam ilmu ushul fiqh yang memuat tentang pembahasan hukum wadh'iy, ketidakberlangsungan pemenuhan syarat dan rukun tersebut disebut dengan batal.

Sementara itu, setiap rukun yang ada di dalam shalat tersebut juga memiliki syaratnya masing-masing. al-Fatihah, misalnya. Syarat al-Fatihah di antaranya harus menjaga huruf-hurufnya, jumlah keseluruhan huruf al-Fatihah ada 138 tanpa menghitung huruf tasydid, jika tasydid dihitung termasuk 2 Alif pada lafadz صراط di 2 tempat dan 2 Alif di lafadz الضّالين , maka jumlah keseluruhannya menjadi 156 dengan menetapkan Alif pada lafadz مالك, ("maa" nya panjang). Kalau "maa" nya pendek ملك, jumlahnya 155. Jika huruf-huruf itu ada yang gugur maka shalatnya tidak sah. Apalagi jika ada kekeliruan yang dapat membuat makna cacat (اللحن المخل بالمعنى) yakni, menyangkut berubahnya i'rob dan berubahnya huruf. Maka, praktis shalatnya tidak sah. (Lihat Kasyifatus saja_far'un syarat-syarat alfatihah). 

Ulama merumuskan syarat-syarat al-Fatihah tersebut tentu berdasarkan sabda Nabi SAW;

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Surat al-Fatihah.”(Shahih Bukhari, Hadits Nomor 714).  

Dan hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى صَلَاةً، لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ، فَهِيَ خِدَاجٌ– ثَلاَثًا – غَيْرُ تَمَامٍ.

“Barangsiapa yang shalat lalu tidak membaca Ummul Qur’an, maka shalatnya kurang—beliau mengulanginya tiga kali—tidak sempurna.” (Shahih Muslim, Hadits Nomor 598).

Lalu, bagaimana jika bacaan Imam tidak fasih?


Terkadang saat shalat, seseorang merasa mendapati bacaan Imam tidaklah fasih sesuai sepemahamannya. Padahal, Tidak semua ketidakfasihan dalam hal baca kemudian fatal dan dapat menyebabkan tidak sahnya shalat. Ada bacaan yang bisa ditolelir oleh tajwid sehingga keadaan shalatnya tetap sah, namun kurang utama. Jadi, tidak dibenarkan jika ada makmum yang memiliki anggapan tidak sahnya shalat berjama'ah bersama si Imam sebelum ada bukti dan klarifikasi yang valid atas bacaan Imam apakah bisa ditolelir atau tidak. Apalagi sampai menjelekkan Imam, sehingga harus dihindari kalau sampai terjadi fitnah untuk urusan keabsahan berjama'ah, kecuali jika kesalahan bacaan Imam sampai merubah makna. Meskipun, sebenarnya kita juga diberi ruang untuk memilih apakah hendak berjama'ah dengan sang Imam sebelum shalat atau hendak berpisah dari mengikuti Imam di tengah-tengah shalat (mufaroqoh)

Contoh bacaan yang kurang fasih namun ditolerir,

Pelafalan "'AIN" menjadi "NGAIN" masih tetap dalam koridor aman, karena pelafalan "Nga" sebagai ganti daripada "'Ain" itu tidak sampai merubah Makna, hanya masuk dalam kategori Ghoiru Kamalin Nuthqi (tidak sempurna dalam pengucapan). Beda Kasus dengan pelafalan oleh Qobilah-qobilah Arab yang disebutkan karena itu sudah Ranah Lahn Jaliyy. Misal, "Kaf" menjadi "Syin", maka akan berubah Maknanya

TA'BIR :
إعلم أن الواجب في علم التجويد ينقسم إلى واجب شرعي وهو ما يثاب على فعله و يعاقب على تركه أو صناعي وهو ما يحسن فعله و يقبح تركه و يعزر على تركه التعزير اللائق عند أهل تلك الصناعة فالشرعي ما يحفظ الحروف من تغيير المبني و إفساد المعنى فيأثم تاركه والصناعي فيما ذكره العلماء في كتب التجويد كالإدغام والإخفاء والإقلاب والترقيق والتفخيم فلا يأثم تاركه على اختيار المتأخرين.
نهاية القول المفيد في علم التجويد ص ٢٤

اللحن الخفي: هو الخطأ الذي يتعلق بكمال إتقان النطق لا بتصحيحه، فلا يدركه إلا أهل الفن الحذاق، ويخفى على العامة، وذلك مثل: عدم ضبط مقادير المدود بأن تنقص نصف درجة أو تزيد، أو عدم المساواة بين مقادير المدود الواحدة في المقرأ الواحد بأن يوسط المنفصل في موضع ويقصره في الموضع الذي يليه، ومثله قلة المهارة في تحقيق الصفات وتطبيق الأحكام كزيادة التكرير في الراءات، وتطنين النونات، وتغليظ اللامات في غير محل التغليظ.
قواعد التجويد على رواية حفص عن عاصم بن أبي النجود ص ٤٤

PERTIMBANGAN :

Ada khilaf di antara ulama mengenai qof yabisah (qof arab) dan juga mengucapkan lafadz alchamdu dengan diganti huru ha'.

Huruf qof Arab adalah huruf dengan cara pengucapan pertengahan antara kaf dan qof menjadi seperti huruf (G). Misal, lafadz Assaqof diucapkan menjadi Assegaf.

Sebagian ulama ada yang memperbolehkan dengan alasan bahwa Qof Arab memang sesuai dengan lughot arab, dan qof ini merupakan logat dari bani Mudor.

Sedangkan, menurut Ghautsani dalam kitabnya; al Mufashal fi Ulum at Tajwid beliau menyatakan bahwa Qof Arab adalah lughat Arab, namun Qaf itu merupakan hasil dari perkembangan bahasa. Sehingga menurut beliau, Qof ini tidak bisa digunakan untuk melafadzkan Alqur'an.

Titik perkhilafan Ulama terkait Qof Arab bermula dari, apakah Qof/Gaf ini adalah lughat Arab yang ittishal (bersambung) pada Nabi atau tidak.

Dari sini, kemungkinan yang menjadi titik diperbolehkannya penggunaan logat untuk tilawah adalah ketika sebuah logat itu adalah logat Arab yang memang absah.

واختلف العلماء في النطق بقاف العرب المتردّدة بينها وبين الكاف فقال كثيرون : تجزي القراءة بلا كراهة ، منهم المزجد والشيخ زكريا في شرح البهجة وابن الرفعة وعلماء حضرموت وأولياؤها ، وقد سأل العلامة القاضي سقاف بن محمد شيخه العلامة عبد الرحمن بن عبد الله بلفقيه عن القراءة بها فأجابه بأن لا ينهى من قرأ بها ، وأن يقرأ هو بها قال : وعندنا من الاطلاع على صحة الصلاة بلا كراهة شيء كثير اهـ. وعن صاحب القاموس أنها لغة فصيحة صحيحة ، وروي أنه نطق بها ، بل نقل الشعراني عن ابن عربي أن شيوخه لا يعقدون القاف ويزعمون أنهم أخذوها عن شيوخهم ، وهكذا إلى الصحابة إلى النبي ، وفي الأسنى والنهاية والإقناع صحتها مع الكراهة. وقال ابن حجر والطبري وعبد الله بن أبي بكر الخطيب بعدم الإجزاء ، مع أن الثقات نقلوا أن الخطيب المذكور كان يصلي بالناس في جامع مدينة تريم بهذه القاف المذكورة ، ويقتدي به الأكابر كالقطب الحداد والعلامتين أحمد الهندوان وعبد الله بن أحمد بلفقيه ، والذي نعتمده ونشير به عدم الإنكار على من يقرأ في الصلاة وخارجها بقاف العرب أو المعقودة ، إذ كل منهما قائل بصحتها أئمة لا يحصون ، وأما عملنا فبالقاف المعقودة ، إذ الجمهور من سائر المذاهب قائلون بصحتها بلا كراهة بخلاف الأخرى ، فحينئذ فمن قدر على النطق بالمعقودة على وجهها من غير شائبة بغيرها مع صفاء ما قبلها ومن غير رياء وتكلف مناف الخشوع فالأولى له القراءة بها ، وإلا فالأولى بل المتعين النطق بالأخرى وهذا شأن الكثير ، ولعل هذا هو السبب في اختيار سلفنا لقاف العرب ، وكفى بهم أسوة اهـ. 

بغية المسترشدين

Ulama berbeda pendapat mengenai pengucapan "Qof Arab"  yang hampir samar antara "Qof" dan antara "Kaf". Kebanyakan mereka berpendapat : Bacaan tersebut mencukupi tanpa makruh, di antara yang berpendapat demikian adalah Imam Muzjid, Syaikh Zakariya di dalam Kitab "Syarah al-Bahjah", kemudian ada Imam Ibnu Rif'ah, Ulama Hadromaut dan wali-walinya. Seorang 'Allamah (orang yang berpengetahuan luas dan mendalam), al-Qodhi (Juru hukum) bernama Saqof bin Muhammad sungguh telah bertanya kepada gurunya al-'Allamah_'Abdur Rahman bin 'Abdillah tentang bagaimana status membacanya. Maka beliau menjawabnya dengan mengatakan bahwa beliau tidak melarang siapapun yang membacanya, bahkan beliau juga membaca dengannya, seraya berkata : Kita mempunyai banyak pandangan diskursus tentang keabsahan shalat tanpa ada yang membencinya (makruh)....

(Bughyatu al-Mustarsyidin)

Sementara di dalam kitab fiqh lainnya;

ﻭﻭﻗﻊ ﺧﻼﻑ ﺑﻴﻦ اﻟﻤﺘﻘﺪﻣﻴﻦ ﻭاﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﻓﻲ اﻟﻬﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﻬﺎء

 وﻓﻲ اﻟﻨﻄﻖ ﺑﺎﻟﻘﺎﻑ اﻟﻤﺘﺮﺩﺩﺓ ﺑﻴﻨﻬﺎ ﻭﺑﻴﻦ اﻟﻜﺎﻑ ﻭﺟﺰﻡ ﺷﻴﺨﻨﺎ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ اﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ﺑﺎﻟﺒﻄﻼﻥ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﺇﻻ ﺇﻥ ﺗﻌﺬﺭ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺘﻌﻠﻢ ﻗﺒﻞ ﺧﺮﻭﺝ اﻟﻮﻗﺖ ﻟﻜﻦ ﺟﺰﻡ ﺑﺎﻟﺼﺤﺔ ﻓﻲ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺷﻴﺨﻪ ﺯﻛﺮﻳﺎ ﻭﻓﻲ اﻷﻭﻟﻰ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﻭاﺑﻦ اﻟﺮﻓﻌﺔ

فتح المعين ١٠٠

Terjadi perbedaan pendapat antara Ulama Mutaqoddimin (Ulama kuno) dan Ulama Mutaakhirin (Ulama Kontemporer) mengenai pembacaan lafadz "al-Hamdu" dengan "Ha" dan dalam pengucapan "Qof" yang samar-samar antara "Qof" dan "Kaf". Guru kami di dalam kitab Syarhu al-Minhaj menegaskan akan batalnya kedua cara pembacaan tersebut keculai jika seseorang terkendala belajar sebelum keluarnya waktu. Akan tetapi, guru beliau_Syaikh Zakariya menegaskan akan sahnya cara pengucapan yang kedua ("Qof" samar seperti "Kaf") dan cara pengucapan yang pertama ("Cha" dengan "Ha'") dianggap sah oleh al-Qodhi Ibnu al-Rif'ah.

(Fathu al-Mu'in)

 

ﻓﻔﻲ ﺃﻱ ﻓﺮﻉ اﻋﺘﺒﺮ اﻟﻔﻘﻬﺎء ﺑﺎﻹﺑﺪاﻝ؟ ﻗﻠﺖ: ﻓﻲ ﻓﺮﻭﻉ، ﻗﺎﻝ اﻹﺳﻨﻮﻱ ﻓﻲ اﻟﻜﻮﻛﺐ: ﺇﺑﺪاﻝ اﻟﻬﺎء ﻣﻦ اﻟﺤﺎء ﻟﻐﺔ ﻗﻠﻴﻠﺔ، ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺇﺑﺪاﻝ اﻟﻜﺎﻑ ﻣﻦ اﻟﻘﺎﻑ .

 ﻓﻤﻦ ﻓﺮﻭﻉ اﻷﻭﻝ: ﺇﺫا ﻗﺮﺃ ﻓﻲ اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ (اﻟﻬﻤﺪ ﻟﻠﻪ) ﺑﺎﻟﻬﺎء ﻋﻮﺿﺎ ﻋﻦ اﻟﺤﺎء، ﻓﺈﻥ اﻟﺼﻼﺓ ﺗﺼﺢ ، ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﻪ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﺣﺴﻴﻦ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺻﻔﺔ اﻟﺼﻼﺓ ﻣﻦ ﺗﻌﻠﻴﻘﻪ، ﻭﻧﻘﻠﻪ ﻋﻨﻪ اﺑﻦ اﻟﺮﻓﻌﺔ ﻓﻲ اﻟﻜﻔﺎﻳﺔ،

ﻭﺃﻣﺎ اﻟﺜﺎﻧﻲ ﻓﻤﻦ ﻓﺮﻭﻋﻪ: ﺇﺫا ﻗﺮﺃ (اﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ) ﺑﺎﻟﻘﺎﻑ اﻟﻤﻌﻘﻮﺩﺓ اﻟﻤﺸﺒﻬﺔ ﻟﻠﻜﺎﻑ، ﻓﺈﻧﻬﺎ ﺗﺼﺢ ﺃﻳﻀﺎ ،

الحاوي للفتاوي ١/ ٢٥٢

....Sub permasalahan yang pertama : Ketika seseorang di dalam pembacaan al-Fatihah (al-Hamdu lillahi) dengan "Ha" sebagai gantian dari "Cha", maka shalatnya tetap sah sebagaimana yang dikatakan oleg al-Qodhi Husain di dalam bab sifat shalat ....

adapun sub permasalahan yang kedua : Ketika seseorang membaca (Mustaqim) dengan "Qof: yang menyerupai "Kaf", maka shalatnya juga tetap sah.

(al-Hawi li al-Fatawi)

Dengan demikian, yang perlu menjadi catatan bagi takmir adalah sebijaksana mungkin sebelum menunjuk calon-calon Imam, takmir menyampaikan kepada para jama'ah tentang pengunggulan terhadap calon Imam berdasarkan kompetensi keilmuan tajwid, fiqh dan kesyuyukhan (ketuaan). Berdasarkan pemahaman hadis berikut:

وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ كِلَاهُمَا، عَنْ أَبِي خَالِدٍ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ : حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ، عَنْ أَوْسِ بْنِ ضَمْعَجٍ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ، قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَائَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَ فِي رِوَايَةٍ: سِنًّا، وَلاَ يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلاَ يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ. [رواه مسلم]

Rasulullah SAW bersabda: “Yang mengimami suatu kaum, hendaklah yang paling baik bacaan kitab Allah (Al-Quran) nya. Jika di antara mereka itu sama, maka hendaklah yang paling tahu tentang sunnah, dan apabila di antara mereka sama pengetahuannya dalam Sunnah, hendaklah yang paling dahulu berhijrah, dan apabila di antara mereka sama dalam berhijrah, hendaklah yang paling dahulu memeluk Islam. Dalam riwayat lain disebutkan “Yang paling tua usianya. Janganlah seorang maju menjadi imam shalat di tempat kekuasaan orang lain, dan janganlah duduk di rumah orang lain di kursi khusus milik orang tersebut, kecuali diizinkan olehnya”. (HR.Muslim No: 673).

1 Komentar

Ijin copas ya pak untuk belajar

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Urgensi Amanah, Transparansi, dan Kemaslahatan dalam Pengelolaan Dana Umat di Masjid

PERMASALAHAN _*Assalamu'alaikum wr wb. Selamat Pagi pak Ustadz.*_ _*Ada pemasukan kas Masjid sebesar 19 jt dari hasil sewa rumah waqaf milik Masjid namun dana tsb diparkir di rekening

24/02/2026 18:03 - Oleh Mustaqim - Dilihat 113 kali
DIMENSI PEMAKNAAN LAFADH NIAT PUASA PENGARUH DARI KATA رمضان dan السنة KETIKA HURUF AKHIRNYA DIBACA "NA"/"NI", "TA"/"TI"

Setiap hari di malam bulan Ramadan, umat Islam senantiasa dituntut menginapkan niat sebagai bagian dari rukun puasa untuk keesokan harinya. Hal ini biasanya dilakukan sesaat kemudian se

21/02/2026 08:08 - Oleh Mustaqim - Dilihat 183 kali
Pesan Menag dalam Tausiyah Kebangsaan: Penguatan Moderasi, Ekoteologi, dan Transformasi Layanan Keagamaan

Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah menggelar Tausiyah Kebangsaan menghadirkan Menteri Agama Republik Indonesia. Kegiatan yang dipusatkan di lingkungan Kanwil Kemenag

08/12/2025 19:16 - Oleh Mustaqim - Dilihat 128 kali
Pena Da’i Nusantara Gelar Dialog Paralel Penyuluh Agama Batch 12 dan Doa Bersama untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar

Pena Da’i Nusantara menyelenggarakan Dialog Paralel Penyuluh Agama Batch 12 sekaligus Doa Bersama untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai bentuk kepedulian atas ben

02/12/2025 21:26 - Oleh Mustaqim - Dilihat 130 kali
Pokjaluh Kota Salatiga Gelar Pertemuan Rutin, Tekankan Penguatan Tata Kelola dan Profesionalitas Penyuluh

Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kota Salatiga kembali menggelar pertemuan rutin dalam rangka memperkuat tata kelola dan kinerja para penyuluh agama Islam di lingkungan Kementerian Ag

31/10/2025 10:38 - Oleh Mustaqim - Dilihat 265 kali